Solo, Solitude

All of this shit comes from ənˈnesəˌserē contemplates.

  • Home
  • About Me
  • Faire!!!
    • Celoteh
    • Sastra
      • Puisi
      • Cerpen
      • -
    • Tugas Kuliah
    • Ngoceh Bau
  • Good Reads
  • Hobbyist
  • Photography
  • Digital Art
  • Football renders

Search This Blog


  



Sebelum masuk ke analisis kekuasaan dalam Kerjasama pihak Polres Kota Malang dengan tokoh-tokoh keagamaan dalam menangkal terorisme dan ekstrimisme. Penulis memberikan sebuah kritik tentang penggunaan kata “Radikalisme” dalam nyaris seluruh artikel yang ditemui tentang permasalahan ini. Jika berkaca pada pengertian sesungguhnya dari kata Radikalisme tentu penggunaan kata ini dianggap tidak tepat. Radikal sendiri berasal dari bahasa latin “radix” yang artinya akar. Jadi, radikal memiliki arti berpikir secara mengakar atau menyeluruh. 
Entah sejak kapan kata ini mengalami peyorasi menjadi arti seperti sekarang. Radikalisme sekarang dianggap sebagai paham yang kerap menggunakan kekerasan dalam menacapi tujuannya dan sejenis dengan fanatisme. Sehingga banyak terjadi kesalahpahaman penggunaan kata, dan parahnya penggunaan kata radikalisme dalam menafsirkan gerakan ekstrimisme didukung oleh media. Media kerap menggunakan kata ini walaupun sudah banyak kajian tentang makna sesungguhnya dari kata tersebut. Bisa jadi ini konstruksi, segelintir yang menginginkan makna kata tersebut mengalami peyorasi.

Kembali ke pembahasan awal tentang wacana hegemoni Polres Kota Malang dalam menangkal terorisme dan ekstrimisme melalui Tokoh Keagamaan.  Terorisme dan Ekstrimisme dianggap sebagai paham yang menegmbangkan ikiran anti-Pancasila dan ani-NKRI. Menghangatnya Isu  tentang terorisme dan ekstrimisme ini berawal dari kejadian teror bom yang tidak alam ini terjadi. Dalam rentang waktu dekat beberapa waktu yang lalu, terjadi teror di negara Filipina dan Thailand. Ditambah adanya kejadian teror bom di Inggris saat berlangsungnya acara konser salah satu artis papan atas asal Amerika. Isu ini semakin menghangat setelah beberapa waktu lalu terjadi teror bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Akibat dari kejadian-kejadian tersebutlah, muncul suatu upaya dari negara melalui Polres Kota Malang untuk menangkal terorisme dan ekstrimisme ini. 

Seperti yang telah disebutkan diawal, penangkalan terorisme dan ekstrimisme tidak akan berdampak banyak jika hanya dilakukan dengan cara represif atau hanya dilakukan pasca kejadian tersebut berlangsung. Perlu ada tidakan prefentif atau pencegahan. Oleh karena itu, Polres Kota Malang berupaya melakukan tindakan pencegahan penyebaran terorisme dan paham ekstrimisme tersebut melalui kerjasama dengan tokoh-tokoh keagamaan yang tergabung dalam FKUB atau Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Malang. Hal ini disebabkan oleh kesadaran Polres bahwa dalam mengatasi masalah ini tidak bisa berjalan sendirian. Setelah dianalisis, pemilihan kerjasama dengan FKUB didasari oleh para tokoh agama dianggap memiliki peran strategis langsung dengan jemaahnya masing-masing dalam menjaga kondusifitas Kota Malang.

Para tokoh Agama dianggap mampu dengan mudah menghegemoni para jemaahnya yang juga masyarakat kota Malang  untuk melakukan tindakan sesuai yang didoktrinkn. Apalagi posisi Tokoh Keagamaan bagi suatu jemaah dianggap sebagai sesorang yang dianggap benar. “Agama itu candu” , kata Karl Marx. Benar adanya. Kebenaran dalam agama dianggap sebagai suatu doktrin yang terkadang tidak bisa ditolak. Dominasi atas nilai melalui perantara tokoh keagamaan dianggap mempermudah proses hegemoni. Mudah untuk mendominasi suatu nilai dalam suatu kelompok masyarakat.

Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Malang juga dianggap aktif membangun komunikasi yang terus menerus dengn antarumat beragama, dengan rektor dan petingi perguruan tinggi Kota Malang. Hal ini diperkuat dengan statement yang muncul didata tentang sasaran utama dalam penangkalan paham ini adalah Mahasiswa. Karena suatu organisasi atau kelompok penyebar aliran ekstrimisme seringkali merekrut anggota-anggota muda yang dengan mudahnya ditemui di perguruan tinggi. Proses regenerasi suatu organisasi masyarakat kebanyakan berada di dalam kampus.
         

Penggunaan tokoh keagamaan dalam upaya hegemoni masyarakat diperkuat dengan munculnya watak masyarakat Kota Malang yang religius. Bahkan hal ini ada dalam visi dan misi kota malang yang menyebutkan demi mewujdkan masyrakat yang religius dan toleran. Dengan watak masyarakat yang seperti ini tentu dianggap akan mempermudah proses dominasi nilai untuk menangkal terorisme dan gerakan ekstrimisme.


0
Share


Benedict Anderson menjabarkan konsep kekuasaan berdasarkan kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa  dianggap sebagai representasi dari konsep kekuasaan di Indonesia.  Kunci dari pemahaman konsep politik Jawa adalah dengan membandingkan konsep politik kebudayaan jawa dan perlaku politik masa sekarang. Konsep politik kebudayaan Jawa memandang semua jenis kekuasaan berjumlah sama, tiap individu memiliki jumlah kekuasaan yang sama dan jika seorang individu memiliki kuasa lebih dari orang lain, dipastikan jumlah kekuasaan dari orang lain berkurang dengan porsi yang sama.
            Dalam Masyarakat Jawa, seseorang yang memiliki benda yang dipercaya memiliki suatu kekuatan tertentu dianggap mempunyai kekuasaan. Pandangan dalam melihat waktu antara Masyarakat Jawa dan Barat berbeda. Maysrakaat Barat melihat waktu sebgaai sesuatu yang berjalan terus menerus atau terus maju, sedangkan masyarakat Jawa melihat waktu sebagai suatu lingkaran pengulangan kekuasaan.
            Terdapat beberapa hal yang membedakan cara pandang masyarakat Jawa dan Barat dalam melihat kekuasaan. Dalam pandangan barat, kekuasaan bisa berasal dari mana saja atau heterogen. Hal ini karena kekuasaan  merupakan hal yang abstrak. Bisa berasal dari harta ataupun kelas. Kekuasaan dianggap tidak memiliki batasan tetap. Karena sumber kekuasaan heterogen, kekuasaan dianggap bisa berkembang dan ambigu secara moral.
            Sedangkan, masyarakat Jawa  melihat kekuasaan sebagai suatu yang konkrit atau berwujud nyata seperti benda-benda sakti, keris dan lain-lain. Sumber kekuasaan berasal dari hal yang sama atau homogen. Kekuasaan dianggap bersifat tetap, dan tidak mempermasalahkanlegitimasi dari kekuasaan itu sendiri. Kekuasan dapat diperoleh melalui ritual seperti puasa atau meditasi. Dalam pandangan jawa kekuasaan itu lebih dari kemampuan untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain, dan dilihat dari hasil yang telah dicapai. Masyarakat Jawa memiliki pembagian peran antara kelompok penguasa dan yang dikuasai. Pembagian ini ingin menekankan bahwa penguasa mempunya peran utama, namun pembagian ini tetap memiliki fungsi untuk menata kehidupan sosial.
0
Share

Pierre Bourdieu adalah salah satu seorang tokoh dari teori kritis, teori sosial dan filsuf di zaman modern bahkan dari berbagai karyanya dikenal juga sebagai sosiolog dan antropolog, dalam hal ini Bourdieu manyalurkan pemikiran, ide-ide, dan gagasannya tentang teori masayarakat dan sosial dengan beberapa konsep pemikiranya yaitu : Habitus, Modal (capital),Arena, kekuasaan simbolik. Pierre Felix Bourdieu lahir pada tanggal 1 Agustus 1930 di desa Denguin, distrik Pyreness-Atlantiques, Barat Daya Prancis , terlahir sebagai anak seorang pegawai pos desa.[1]Pierre Bourdieu telah mengahsilkan beberapa karya fenomenal dalam bukunya, seperti sociologie de l’Algerie (1958), The Algerians (1962), La Distinction (1979), Distinction (1984), dan lain sebagainya. Dalam hal ini penulis akan membahas mengenai teori dari Bourdieu tentang Habitus, Modal, Arena, dan Dominasi simbolik.
            Habitus menurut Pierre Bourdieu merupakan produk sejarah sebagai warisan dari masa lalu yang dipengaruhi oleh struktur yang ada. Habitus diperoleh sebagai akibat dari ditempatinya posisi di dunia sosial dalam waktu yang panjang. Bourdieu juga mengatakan bahwa, Habitus bukanlah hasil dari kehendak bebas, atau ditentukan oleh struktur, tapi diciptakan oleh semacam interaksi antar waktu: disposisi yang keduanya dibentuk oleh peristiwa masa lalu dan struktur, bentuk praktik dan struktur saat ini, serta persepsi saat ini. Dalam hal Habitus dibuat dan direproduksi oleh penguasa serta diterapkan pada orang yang dikuasai secara tidak sadar.
            Jika melihat konsep Habitus dari Bourdieu pada ranah kekuasaan dapat dilihat pada konsep kekuasaan masyarakat Jawa, dimana budaya Patrimonial masyarakat Jawa sangat kuat, sikap tunduk seorang rakyat terhadap raja (penguasa) merupakan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Dalam hal ini juga dapat dilihat pada kekuasaan era modern di Indonesia yaitu ketika era Presiden Soeharto, dengan sistem sentralistiknya bergaya otoriter. Pada saat itu segala perintah Soeharto harus dilaksanakan. Ketika era Soeharto Juga konsep Habitus  juga dapat dilihat ketika Soeharto membagun oponi masyarakat tentang Partai Komunis Indonesia, bahwa PKI identik dengan kekerasan dan tidak beragama. Sehingga pada waktu itu Soeharto  dapat melangenggkan kekuasaanya dengan membangun persepsi publik.
Capital (Modal), Bourdieu melihat Modal sebagai pendasaran tentang konsep masyarakat sebagai kelas, dimana jumlah modal yang dimiliki oleh masyarakat menentukan keanggotaannya di kelas sosial. Modal juga dapat dijadikan sebagai alat untuk memproduksi kekuasaan dan ketidaksetaraan.[2] Boudieu juga mengkategorikan jenis-jenis modal yaitu berupa : economy capital, social capital, dan cultural capital dimana setiap modal memiliki komoditasnya masing-masing. Modal juga memiliki peran dalam hal kekuasaan, modal merupakan bentuk simbolik dari kekuasaan, dimana modal juga memunculkan ketimpangan di dalam masyarakat, seperti contohnya dalam hal politik siapa yang memiliki modal politik akan menguasai arena politik dan sebaliknya.
Arena menurut Bourdieu sendiri melihat Arena sebagai area pertarungan dan perjuangan, dimana setiap arena pasti memiliki aturan main dan logikanya sendiri-sendiri serta semua arena dapat membangkitkan keyakinan bagi para aktor mengenai sesuatu yang dipertaruhkan.[3] Dalam hal ini Bourdieu mencontohkan bentuk dari sebuah arena adalah kesenian, keagamaan, ekonomi, dan kekuasaan. Jika dikaitkan pada beberapa teori yang sebelumnya seseorang dapat berhasil di sebuah arena haruslah memiliki habitus atau Capital yang kuat. Sebagi contoh ketika sesorang ingin memperoleh kekuasaan harus dapat memanfaatkan Habitus  yang dimiliki dan ditambah dengan modal yang dimiliki untuk memperolh arena yang dijadikan sebagai objek dari sebuah kekuasaan. Hal ini sudah dipraktikan oleh Soeharto pada tahun 1965 yaitu pada G30S/PKI.
            Dominasi Simbolik, menurut Bourdieu adalah penindasan dengan menggunakan simbol-simbol, bentuk penindasan ini tidak dirasakan secara langsung sebagai penindasan, akan tetapi merupakan hal normal dilakukan. dengan kata lain bentuk penindasan tersebut mendapat persetujuan dari pihak yang ditindas itu sendiri.[4] Dimana Bourdieu melihat dominasi ini akan melahirkan sebuah kekuasaan simbolik, kekuasaan ini berjalan melalui relasi-relasi sosiokultural keseharian. Dalam hal ini dominasi kekuasaan simbolik dapat dilaksanakan dan berjalan secara terus menerus apabila para agen didalamnya dapat merubah dan memperbaruinya. Kekuasaan simbolik inilah yang mampu mengubah dari sekedar modal ekonomi menjadi modal simbolik yang terus diproduksi secara mandiri bukan melalui sebuah paksaan, tetapi kedermawanan. Hal itulah yang menyebabkan sebuah kekuasaan dapat berjalan secara terus menerus.
            Dengan singkat Bourdieu menjelaskan bagaimana hubungan antara Habitus, Modal, dan Arena, dimana menghasilkan sebuah Praktik untuk merebutkan kekuasaan. (Habitus X Modal) + Arena = Praktik

Oleh: Marsha Dhita Pytaloka, Ryco Imam.


[1] Mohammad Adib.Agen dan Struktur dalam Pandangan Pierre Bourdieu. Jurnal BioKultur, Vol 1, No. 2, Juli-Desember 2012, hal 91-110. Hlm 96
[2]Ibid . Hlm 106
[3]Rossy Capriati. Strategi dan Perjuangan pedagang Kaki Lima (PKL) di Kelurahan Pasar Pagi Kota Samarinda.  E-Journal Sosiatri-Sosiologi, 2013, 1 (2) : 36-50. file http://ejournal.sos.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/05/Jurnal%20occy%20(05-14-13-05-20-37).pdf. Diakses  pada tanggal 26 Maret 2017 Pukul 21.30 WIB. Hlm 40
[4]Reza A.A Wattimena. Berpikir Kritis Bersama Pierre Boudieu. Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya. Diakses di https://rumahfilsafat.com/2012/04/14/sosiologi-kritis-dan-sosiologi-reflektif-pemikiran-pierre-bourdieu/ pada tanggal 26 Maret 2017 Pukul 20.05 WIB
0
Share

Ku lewati lorong,
Ku masuki ruang
Sesak, penuh akan  manusia
Berinteraksi
Saling memuji, saling mencela
Saling bercerita, sekedar bersapa
Omong kosong pikirku
Aku memilih diam

Sendiri tak kesepian
Ramai namun hampa
Bagai orang asing
Tak satupun ku kenali
Tak satupun mengenalku

Namun pikirku lagi
Bisa jadi ini kesepian
Bukankah ada banyak jenis kesepian?

AKU,
Bukanlah aku
Itu aku,
Sebagian, bukan.
Bahkan tak seperempat

Ini ‘aku’,
Yang kalian tahu
Ini ‘AKU’,
Yang tak kalian tahu

Apa kalian ingin tahu?

Sekedar ingin tahu?
1
Share
Warm Bodies by Isaac Marion
My rating: 4 of 5 stars

[This review contains spoilers]

It is a book about Zombie, dan Aku belum pernah suka buku yang bercerita tentang Zombie. Tapi buku ini berbeda. Apa yang membuat buku ini unik? Buku ini bercerita melalui sisinya si Zombie 'R', so R is the narator. Yang aku tahu, sebelum menjadi sebuah novel, awalnya novel ini hanya sebuah cerpen online sekitar 7 halaman.

Buku sama film nya agak berbeda ceritanya, jelas lebih lengkap dan rinci di buku. Banyak hal yang ga diangkat di film api bisa kamu temukan di bukunya. Misal, di film R digambarkan sosok zombie muda dengan penampilan casual. Sementara dibuku dijelaskan R sebagai sosok zombie muda dengan penampilan ala kantoran, dengan dasi tergantung di lehernya. Jika di film R digambarkan hidup sendiri, sementara di buku para zombie digambarkan memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan manusia. Mereka memiliki keluarga. Bahkan R dikisahkan telah memiliki istri, anak dan juga seorang ayah. Tapi R merasa tidak puas dengan kehidupannya.

Ada beberapa bagian menarik dalam buku yang tidak muncul di film, misal anak-anak zombie dimasukan ke sekolah khusus untuk belajar cara menggigit mangsa dengan baik dan benar. Zombie juga memiliki hasrat, bisa bercinta hanya saja cara bercinta nya cukup aneh, dengan telanjang satu sama lain lalu menggosokan tubuh mereka. Bahkan dikisahkan beberapa zombie juga memiliki kepercayaan dan ada yang melakukan ritual berdoa.

Para zombie bertahan hidup dengan memakan manusia. R berpikir bahwa bagian terbaik dari memakan manusia adalah bagian otaknya. Karena saat memakan otak, begitu si otak masuk ke mulut zombie, mereka bisa melihat beberapa memori dari otak yang dimakan. Semacam sekilas film pendek. Sampai pada suatu hari R dan gerombolannya sedang mencari makan disebuah apotek dan mereka menemukan gerombolan manusia yaitu Julie,dkk. Lantas mereka menyerang. Sampai saat R memakan otak dari Perry (kekasih Julie), saat itu pula R bisa melihat dan merasakan kenangan-kenangan dalam otak Perry sampai perasaannya terhadap Julie. R merasakan sesuatu yang belum pernah ia liat dan rasakan semenjak menjadi Zombie, yaitu "Cinta".

Novel ini jalan ceritanya agak semi sastra gitu jadi bahasanya lumayan bagus. Dan novel ini mengajak pembaca untuk menggambarkan tokoh dan setting ceritanya. Saran sih, baca bukunya dulu baru lihat filmnya tapi harus siap-siap kecewa soalnya agak berbeda ceritanya walaupun intinya tetap sama.

View all my reviews
2
Share
Rahasia-rahasia Ali Moertopo Rahasia-rahasia Ali Moertopo by Tim Buku TEMPO
My rating: 3 of 5 stars

Sudah lama aku tertarik membaca tentang sosok ini. Bagian awal buku ini bercerita tentang sepak terjang Ali Moertopo. Ia yang terkenal sebagai sosok yang sangat setia kepada Soeharto. Ia di anggap sebagai perintis jalan politik Soeharto. Ia juga turut andil menjaga stabilitas politik pada rezim Orde Baru. Ali melebur sekian banyak partai politik menjadi tiga partai, Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Demokrasi Indonesia dengan tujuan agar gerak parpol bisa diawasi dengan baik dan mudah dikendalikan. Diawal masa pemerintahan orba, Ali bertugas sebagai penjabat hubungan luar negeri, dan misi diplomatik yang dia emban antara lain ketika Indonesia berupaya mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia, membebaskan Irian Barat, dan menyatukan Timor-Timur.

Disebutkan dalam buku ini setelah peristiwa Malapetaka 15 Januari atau dikenal Malari, Soeharto dibantu Ali Moertopo melalui Opsus atau Operasi khusus membentuk organisasi-organisasi bagi kalangan terdidik, seperti KNPI, dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Saat itu Opsus sangat dominan menyokong Soeharto pada awal transisi Orde Baru. Opsus memiliki kekhususan untuk mengumpulkan berbagai informasi, lalu informasi tersebut akan disusun, kemudian dijadikan suatu usulan untuk Soeharto.
Secara keseluruhan didalam buku ini terdapat beberapa rahasia dibalik sosok Ali Moertopo baik dalam kehidupan pribadi maupun perannya di roda rezim Orde Baru dan Dunia Intelijen Indonesia. Tapi sayangnya bab-bab dari buku ini acak sehingga sedikit membingungkan saat dibaca, dan data fakta yang disajikan masih sangat dangkal.

Rekomendasi buku lain untuk mengenal sosok Ali Moertopo : Ali Moertopo & Dunia Intelijen Indonesia.

View all my reviews
0
Share


"It was rainy yesterday. Some people feel the rain, and others just get wet. And I realized something, my point was not to change you at all. I've seen your scars, your pessimistically side. I knew your flaws and I accepted it, maybe I even like you because of it. But it doesn't mean I'll let you when you're wrong. It was simply to show you, in spite of all the weirdness and flaws you have, there's still someone who loves you for who you are and willing to help you get it right."
1
Share



GMNI:
  • ADART GMNI
  • Asas, Doktrin, dan Tujuan Perjuangan GMNI
  • SEJARAH SINGKAT GMNI

Bung Karno:
  • Amanat PJM Presiden Soekarno pada Konferensi Besar GMNI di Kaliurang  (17 Februari 1959)
  • Amanat PJM Presiden Soekarno pada Peringatan Sapta Warsa GSNI
  • Lahirnya Pancasila Pidato Pertama Pancasila Bung Karno di Depan Dokuritu Zyunbi Tyoosakai (1 Juni 1945)
  • Soekarno - INDONESIA MENGGUGAT (Pidato pembelaan yang dibacakan oleh Sukarno pada persidangan di Landraad.)

Buku-Buku:
  • Aksi Massa : Tan Malaka (1926)
  • Antara Negara dan Revolusi : Amir Sjarifuddin
  • ARISTOTLE'S POLITICS
  • BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA : Cindy Adams
  • DIBAWAH BENDERA REVOLUSI Jilid 1
  • Leviathan_Thomas Hobbes
  • MADILOG : Tan Malaka (1943)
  • Menuju Republik Indonesia : Tan Malaka (1925)
  • THE COMPLETE WORKS OF PLATO
  • The Little Red Book : Mao Tse Tung
  • SARINAH : Sukarno
0
Share

Not What I Expected...

Well, mungkin ini judul yang bisa dikatakan tepat dengan apa yang akan saya utarakan kali ini. Sejak dulu jujur saya suka dengan segala aktifitas pergerakan. Dulu saya pernah mengikuti kegiatan menuntut hak siswa dan penolakan pembayaran SPP siswa yang terhitung terbesar di Kabupaten saya. Padahal Sekolah saya dulu adalah sekolah negeri dan bukan swasta tapi dalam hal pembayaran sangat "homina hominaaa"
Ya, jujur sampai sekarang saya masih cinta akan aktifitas seperti itu. Ea.

Awal kuliah, saya berasumsi organisasi internal kampus itu berorientasi kepada nilai-nilai pergerakan mahasiswa. Misal mengawal kebijakan-kebijakan yang dilakukan birokrasi didalam kampus maupun diluar kampus. Ya setidaknya ada peran penting yang harus diperankan oleh organisasi internal tersebut misal dalam bidang sosial dan politik. Minimal ada peran strategis yang diperankan oleh organisasi internal tersebut seperti menyuarakan aspirasi, menuliskan opini dan memberikan gagasan dengan tujuan memberi solusi terhadap permasalahan yang ada di kampus ataupun di negeri. Itu asumsi awal saya. tapi setelah saya terjun langsung kedalamnya apa yang saya dapat?

Not what i expected. ya, tidak seperti apa yang saya harapkan. Asumsi-asumsi saya buyar seketika saat terjun didalamnya. Awal menjadi mahasiswa baru saya bergabung dengan salah satu organisasi di kampus. Bangga bukan main saya rasa saat itu. Entah karena saking bodohnya atau polosnya saya, saat itu saya tidak merasa ada yang aneh dalam organisasi tersebut. Saya bangga. Saya merasa hebat dibanding teman yang lain karena di awal perkuliahan saja saya sudah bisa masuk organiasasi seperti ini.

Waktu berlalu, masih saja saya tidak sadar. Mungkin karena saya terlalu bodoh dan polos tapi punya rasa ingin belajar yang kuat. Saya lakoni berbagai aktifitas didalam organisasi tersebut dengan senang hati. Masih dalam keadaan polos. Tapi seiring waktu berjalan saya makin tidak mengerti esensi beberapa kegiatan yang saya lakoni. Tapi karena sudah terlanjur masuk, saya tetap manfaatkan dengan baik panggung yang sudah diberikan tersebut walaupun panggung tersebut tidak seperti apa yang saya harapkan.

Organisasi berikutnya yang saya ikuti pun begitu, walaupun secara kegiatan saya rasa masih memiliki beberapa esensi. But still, It's not what i expected. Sempat beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan salah satu teman dari jurusan lain. Dia komplain tentang berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh himpunan jurusannya. Dia mengatakan bahwa kegiatan yang diselenggarakan himpunannya jauh dari esensi dan jauh dari apa yang seharusnya diterapkan. Dia juga bercerita bagaimana bobroknya isi kepanitian tiap kegiatan yang ada. Dari pencarian dana untuk kegiatan yang sampai menyentuk puluhan sampai ratusan juta. Sampai setiap panitia yang ada dituntut untuk merelakan uang pribadi mereka dipakai untuk menutupi dana yang kurang.

Mungkin itu yang sempat saya rasakan di organisasi awal perkuliahan. Dia satu-satunya anak dari jurusan lain yang sering saya lihat menghadiri kegiatan yang diselenggarakan himpunan saya. Dia mengakui dirinya iri dengan himpunan jurusan saya karena kegiatan yang dibuat oleh himpunan saya lebih beresensi dibanding dengan jurusannya. Walaupun saya pribadi mengakui ada beberapa kegiatan yang masih tidak masuk diakal saya dan masih saya pertanyakan ranahnya di jurusan saya.

Benar saja, sampai sekarang organisasi-organisasi yang saya ikuti masih jauh dari ekspetasi saya. Saya masih merasa organisasi tersebut tidak memainkan peran sesungguhnya. Hanya segelintir peran yang diperankan tapi itupun bukan peran strategis yang seharusnya. Saya merasa masih banyak masalah yang ada dikampus tapi tidak bisa ditampung oleh organisasi tersebut. Jauh dari apa yang saya harapkan yaitu 'pergerakan, perjuangan,' Sesuatu yang mendorong mahasiswa menjadi progresif revolusioner.

Saya minta maaf jika dalam tulisan saya kali ini ada pihak yang merasa tersinggung. Saya hanya menuliskan apa yang saya tahu dan rasakan. Bukan, saya tidak mengatakan saya tidak suka dengan organisasi-organisasi yang telah saya masuki. Saya pun tidak menyesali telah masuk kedalamnya. Saya senang bisa mengenal banyak orang hebat dalam organisasi-organisasi tersebut yang berkompeten pada bidangnya. Saya senang bisa menemukan keluarga kecil didalam organisasi tersebut yang sampai sekarang masih bisa saya singgahi walaupun sudah lengser dari organisasi tersebut. Saya berterima kasih. Saya pun tidak bisa menjadi diri saya yang sekarang tanpa adanya kalian.

-Marsha Dhita Pytaloka (Kamis, 1 November 2016)
0
Share


I had to keep pulling him up for air.
His gasp screamed inadequacy.
It pained me to know my heart bleed for a man unaccustomed to swimming in such depths.
He much preferred girls with shallow waters.

When that ache in my chest rises up and spills down my cheeks,
I put on and remember what it feels like to be all wrapped up in a part of him.
Yet, he much preferred girls with shallow waters.

I would have done anything to take it from him- the pain. All of it.
To hold him in my arms and let it soak beneath my skin.
But still,

he much preferred girls with shallow waters.
0
Share


Bingung dengan aku yang sekarang. Diriku semakin jauh terbawa. Bukan rindu akan diriku yang dulu. Diriku yang dulu tak jauh lebih baik dari yang sekarang. Bertanya, kemana diriku yang dulu. Penuh dengan optimisme. Menggelora. Penuh dengan passion. Berani "Speak Up". Visioner. Dan selalu berusaha untuk bisa transformasional.


Aku semakin tak tau arah. Semakin tak bertuhan. Idealisme ku menjadi abstrak. Nilai dan norma kutentang. Like an idiot. Kebenaran ku di awang-awang. Ku krisis kepercayaan. Seperti berontak. Terkadang ku merasa tak berotak

Hal "itu" aku dekati. Ingin mencoba banyak hal. Pikirku. Sampai tak tahu mana yang benar. Sesungguhnya aku tahu. Tetap kulakukan. Seperti tak berotak.

Ku seperti tak bermoral. Kehilangan arah. Terkadang ku merasa, butuh 'mereka'. Teman bicara pun aku tak punya. Ku terbiasa sendiri. Bukan Kesepian. Bukan tak punya teman. Hanya saja, tak ku temukan 'mereka' yang sejalan. Adaptasi ini tak semudah yang kubayangkan.

Bagai hewan yang lama di kandang. Seperti baru menemukan kebebasan. Bukan seperti ini arti kebebasan. Aku tahu. Lagipula, selama ini ku tak merasa seperti di kandang.


Ku tak tahu. Aku merasa tak berotak. Mungkin ini rasa rindu bersentuh denganNya. Mungkin ku sudah terlalu jauh terbawa. Terlalu lama tak bersentuh denganNya.
0
Share


Banyak yang menghabiskan waktu mengagumi superhero rekaan AS. Andai mereka mengenal siapa pak HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Soedirman, Hatta.


Banyak yang kagum tergila-gila dengan artis-artis Asia di layar kaca. Ah, andai mereka pernah mendalami perjuangan Soekarno, Natsir hingga Buya Hamka.

Banyak yang mengeluh dan sumpah serapah tentang Indonesia. Andai mereka tahu dengan warna darah apa ia bangun dan tegakkan dulu kala.

Banyak laki-laki wanita tersedu-sedu merengek karena cinta. Andai mereka hadir di tengah perang Aceh atau mendalami keperihan tanam paksa.

Banyak yang berdebat dengan kasar dan saling menjatuhkan. Andai mereka menyaksikan santunnya perang gagasan yang diperagakan Moh.Yamin, Syahrir, Hatta.

Banyak orang yang gemar bersantai-santai dalam kesia-siaan. Andai mereka tahu justru dengan 1 paru-paru Jendral Sudirman memimpin gerilya keluar masuk hutan.

Banyak orang yang tak mampu bersabar saat menulis/membaca. Andai mereka tahu... di Penjara, Bung Karno menyusun buku dan juga Hatta, juga Hamka.

Banyak orang yang tak bersyukur dengan rumah yang sederhana. Andai mereka tahu Haji Agus Salim sang Legenda Indonesia berpindah-pindah kontrakan karena tak memiliki rumah.

Banyak orang semakin melemah dan tak mampu berjalan kaki. Andai mereka tahu bahwa silih berganti kaki Tan Malaka menyusuri Cina, Inggris, hingga Rusia.

Banyak yang gemar menghabiskan waktu pagi untuk tidur dan bersantai. Andai mereka tahu di usia senja renta, justru Pangeran Diponegoro keluar masuk penjara.

Kawan, kehidupan adalah perjuangan. Mereka para pejuang Indonesia telah bekerja keras dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia, bagaimana dengan kita? Do the hard work or support those doing the hard work. Don't be third one.

1Dea Tantyo, LEIDEN! Menghirup Inspirasi dari Soekarno, Hatta, Cicero, Roosevelt, M.Natsir, Agus Salim, Bruce Lee hingga Soe Hok Gie, (Bekasi: Duta Media Tama, 2014), 156-157
0
Share
Hello 2016! Ciee bakal sering salah nulis tahun lagi ciyee. Ini adalah postingan pertama gue di tahun 2016 ini. Postingan pertama di tahun ini harus spesial. Makanya kali ini gue bakal ngebahas tentang Biro ter-hits di Kabinet Gerak Juang. Ya, BIRO HUMAS BEM FISIP UB 2015! Sebenernya postingan ini udah di buat dari Desember 2015 tapi kepotong terus sama tugas jadi baru bisa di post sekarang.

Orang bilang, "Segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan ini bukanlah kebetulan." Hmm. Well maybe I start to understand why I'm here and not there.

Hubungan Masyarakat, sebut saja Humas. Who knows orang macam gue bisa masuk humas. Orang yang jarang ngomong dan gak ngerti apa-apa soal yang namanya "hubungan" eakk baper sek. OK skip baper nya. Pas Jaman SMA gua kepilih buat jadi Co.Humas Paskibra sekolah gue. Disitu gue bingung soalnya gue daftarnya di divisi kesehatan tapi kok malah masuknya di Humas, mana di humas gak jadi anggota lagi malah langsung jadi Co. hmm. Jauh gilak pindahnya! Tapi justru dari situ yang jadi acuan gua buat daftar Staff Magang Biro Humas BEM FISIP UB 2015.

Awalnya gue bingung antara Biro Humas atau MinBak. Jujur gua minat banget sama MinBak soalnya gue ngerasa Kementrian ini cocok banget sama jiwa setan seni gue. Tapi dengan segala pertimbangan akhirnya gue milih Biro Humas buat jadi pilihan pertama gue pas daftar staff magang. DAN GUE GAK NYESEL AKAN PILIHAN INI. Tsahh.

Disini gua bisa kenal sama orang-orang GILA hebat macam mereka.
Sayang gak lengkap personilnya.
 Okay disini gue mau ngasih tau first impression and what I remember most about them.
 Satu-satu nih gue jabarin biar pada puas nyaaakk! et dahhh.

Kak Bebe :
Pertama kali gue ngeliat Kak Bebe pas screening. Pembawaannya Kak Bebe ini tenang bangetttt. eaaa. Macam air di waduk perbatasan Blitar sama Malang wkwk. Tapi memang sih pertama kali liat Kak Bebe agak nyeremin soalnya ketemunya pas screening dan gak tau nya itu semua hanya settingan belaka. 

Satu yang paling gue inget dari Kak Bebe pas waktu screening, Kak Bebe ini orang yang minta gue ngelanjutin omongan gue yang sempet ke potong gara-gara Kak Dio pas screening. Haha jadi pas screening itu ada moment dimana gue belum selesai ngejawab pertanyaan dari staff ahli tapi udah keburu di potong duluan sama Kak Dio. Nah Kak Bebe inilah yang paling peka kalo omongan gue belum selesai wkwk.

Tapi setelah kenal beberapa bulan, ternyata kak bebe baik banget gak se-serem pas screening. Kalo nyampaikan sesuatu juga halus gak kasar eaaa. Gue ngerasa Kak Bebe bener-bener nuntun anak-anaknya. Mana Kak Bebe mau banget diribetin buat nganterin pulang kalo abis rapat malem. :") Kak Bebe, You're the real MVP.

Kak Njo : 
Pertama kali liat Kak Njo pas PKK Maba hari ke-2. First impression cool enough walaupun keliatan agak gugup pas masuk kelas. Sumpah keliatan banget Kak wkwk. Ini orang pembawaannya cool banget pas itu. Bisa di bilang masih jaga image. haha.

Tapi, gak tau nya pas udah masuk BEM...... Ett dahhh! Sifat aslinya keluar semua rekk. Pokok e wes mboh rek. Kak Njo ini salah satu manusia paling ngGILAni yang pernah gua temuin. Langka banget nih orang kayak gini wkwk. Pokoknya "Gak ada lo gak rame!" dah kak.

Mas Reve :
Kenapa manggilnya "Mas" bukan "Kak"? Soal nya dulu pertama kali chat sama Mas Reve gua manggil dia "kak reve" tapi dia nge-balesnya tetep pake "mas", jadi akhirnya kebiasaan, dan keterusan manggil dia "mas". Ciyee MAS.

Pertama kali ketemu Mas Reve, lupa kapan. Tapi yang paling gua inget pas sebelum Pre-Event 1 Social Nite. Disitu Mas Reve ngebantuin PDD bikin dekor buat Pre-event. Disitu Mas Reve keliatan jago banget bikin gituan. Hmm. Setiap lewat ged.A pasti sering ketemu Mas Reve lagi duduk disitu, gak ngerti dia ngapain. Mungkin numpang Wi-Fi Gratis wkw. Awalnya ngeliat Mas Reve, keliatan diem orang nya tapi setelah beberapa minggu. Ealah gini orang nya. Mas Reve ini yang sering guyonin Kak Nurul.

Kak Odi :
Gak inget kapan pertama kali liat Kak Odi yang jelas kesan awal keliatannya Kak Odi orang nya pendiem dan gak banyak omong. Yang paling gua inget dari Kak Odi yaitu pas sehari setelah nunjukin poster Social Nite Pre-Event 1 ke Humas. Kak Odi tiba-tiba ngechat gua, kalo gak salah dia bilang "Marsha, sumpah keren banget itu posternya. PDD emang keren! Selalu keren! itu kapan mau dicetak posternya?" wkwk. Disitu gua heran, kenapa ini orang tiba-tiba nge-chat gituan, eh gak taunya Kak Odi Kapel. Di situ gua baru tau kalo Kak Odi Kapel, maafkan aku kak odi wkw,
Setelah beberapa bulan berlalu, emang bener Kak Odi ini gak banyak omong orangnya. Tbh, sometimes I see the reflection of myslef on him. Eaakkk.

Kak Helena :
Pertama kali liat Kak Helena pas TO Staff Magang. Pertama ngeliat Kak Helena keliatan jutek banget orangnya wkwk. Agak serem sih awalnya tapi pas udah kenal ternyata orangnya baik banget gak kayak kesan awalnya yang jutek. Yang paling diinget dari kak Helena, kalo pulang bareng-bareng sama Kak Bebe minta dianter sampe depan kosan soalnya takut di gangguin sama cowok-cowok yang ada di sekitar jalan pulang nya wkwk.

Kak Ncent :
Kapan pertama kali ngeliat Kak Ncent? kalo gak salah sih pas TO Staff Magang. Pertama kali ngeliat Kak Ncent awalnya gak terlalu merhatiin. Baru mulai kenal pas kerja bareng di PDD Karang. Dan bagian pas jadi PDD di Kunjungan FPIK itu lah hal yang paling aku ingat tentang Kak Ncent. Pas waktu itu, walaupun posisinya lagi di luar kota dia gak lepas tanggung jawab. Masih tetep ngehubungin dan mau di ajak kerja bareng.

Kak Dio :
Kakak HiVi!!!!!!!!!!!!!! Kata temen kelas gua Kak Dio ini mirip personilnya HiVi wkwk.
Pertama kali ngeliat Kak Dio pas screening. Paling inget pas screening Kak Dio nyekat pembicaraan ku pas screening wkwk. Karena pertama kali ngeliat pas screening, jadi first impressionnya Kak Dio keliatan nyeremin pas awal. Tapi setelah kenal di Humas. Kak Dio ini gila juga. Ntah kenapa Humas ini dipenuhi sama orang-orang gila kayaknya hmm. Kak Dio ini partnernya Mas Reve buat ngeguyonin Kak Nurul.

Cuman sedihnya Kak Dio ini jarang ikut kumpul pas Humas pada kumpul. Tapi Kak Dio ini salah satu yang paling sering ngeramein grup.


Kak Nurul : (Khusus Kak Nurul kata "gua" diganti jadi "aku")
Kalo misalnya Humas ngadain Humas Award kalik Kak Nurul ini yang bakal menang nominasi "ter-bully." wkwk. Yang sabar yah kak dapet pahala kok bikin orang ketawa.

Pertama kali ngeliat Kak Nurul pas Screening. Disitu keliatan banget kalo Kak Nurul naruh minat ke aku. Keliatan dari bahasa tubuhnya eaa. Pertama ngeliat Kak Nurul keliatannya orang nya baik dan ternyata emang beneran baik. Pas pertama kali rapat humas. Kak Nurul keliatannya seneng banget aku bisa masuk. And I have no idea kenapa Kak Nurul keliatannya seneng banget tapi setelah waktu berjalan sekarang aku tau kenapa haha.

Paling inget pas habis Pre-Event Social Nite, Kak Nurul bilang terima kasih ke aku dan bilang kalo di ke bantu banget dengan ada nya aku disini. On that moment I feel needed, setelah itu aku bener-bener naruh respect ke dia walaupun memang ada beberapa sifat nya yang agak gimana tapi dibalik itu semua banyak hal yang bisa aku pelajari dari Kak Nurul. Tsahhhh.


Amanda :
Gak inget pertama kali ketemu ini anak kapan, kayaknya sih pas TO Staff Magang. Pertama kali ketemu gak terlalu merhatiin ini anak wkwk. Baru bener-bener kenal pas kita sama-sama dimasukin di PDD Social Nite. Ini anak adalah salah satu manusia terblak-blakan yang pernah gua temuin. Orang yang bikin gua sadar kalo gua ini orang nya cuek banget wkwk. Paling inget kata-kata manda "Abis Mar, lo anaknya keliatan cuek banget gak cocok sama cinta-cintaan." | "Dunia mau kiamatttt, si Marsha pake sepatu cewek. Sumpah Mar Lo kayak Banci jadinya!" wkwkwkwk anjir emang lo Man.

Adam : 
Pertama kali ketemu Adam pas Screening hari kedua. Disitu pertama kali tau kalo si Adam jago stand up comedy. Inget banget pas pulang screening si Adam nawarin tebengan pulang "Mau nebeng gak, siapa tau kamu lelah." katanya.  tapi gua tolak wkwk. Si Adam ini ekspresi muka nya gitu doang. Lucu kalo liat ekspresi nya wkwk. Kalo lagi jalan bareng temen, terus ketemu dan nyapa adam, temen -temen gua sering nanyain, "Itu siapa sha, kok ganteng banget." wkwkw ciyee Adam.

Dea :
Pertama kali ngeliat Dea lupa kapan. Ntah pas screening atau pas TO Staff Magang. Kalo gak salah sih pas screening hari pertama. Pertama ngeliat Dea keliatan banget kalo baik dan ramah anaknya. Paling inget dari Dea, kebiasaan dia paling ribet kalo udah urusan dresscode. Pasti ngeline dulu, disuruh fotoin gimana dresscode kita.

Lala :
Pertama kali liat Lala pas screening hari pertama. First impression, ini anak keren banget, jago ngomong, anjirrr banget dah. Mana anak AIESEC pula. Salah satu manusia paling ekspresif yang gua kenal. Paling diinget dari Lala ya jelas kata, "Punten" nya. Gara-gara dia gua jadi pingin belajar bahasa sunda. Alhamdulillah sampe sekarang baru bisa ngomong "saha?".

Mytha :
Gak inget kapan pertama kali ngeliat si mytha. Kayaknya pas TO Staff Magang. Awalnya gak seberapa merhatiin. Sama kayak manda, gua baru bener-bener kenal mytha semenjak sama-sama di masukin jadi satu di PDD Social Nite. Si Mytha ini termasuk temen curhat kalo ada problem dikit di Humas. Suka sedih kalo denger curhatannya si Mytha. wkwk.

Owi :
Nah ini ni. Maaf ya wi kalo isi nya ini bakalan sedikit bikin lo flashback wkwk.

Pertama kali ketemu Owi itu pas nonton OB. Si Owi lagi sama si ANU. Disitu posisinya gua masih belum kenal sama sekali. Terus ketemu lagi sama si Owi pas screening hari kedua. Itu ceritanya kita rebutan tempat duduk wkwk. Setelah pengumuman staff magang, keesokan harinya Si ANU bilang ke gua, "Eh, sha ada temen gua juga tu lolos di Biro Humas sama kayak lo. Namanya si Owi."
Baru dari situ dah gua tau yang namanya "Owi."
Sampe setelah rapat pertama, gua chat si ANU. Gua bilang, "Yakin temen?" "Temen apa temen tuh." 
. Si ANU cuman bales, "Hahaha."
wkwkwk. Ok udahan dulu bikin si Owi baper.

Pertama kali liat si Owi emang udah keliatan ni anak humble banget. Entah kenapa pembawaan Owi keliatan begitu. Salah satu temen curhat pula tapi kali ini temen curhat soal perasaan eakk. Yang paling diinget dari Owi, pas kita berdua muter-muter nyari tempat duduk yang enak cuman buat curhat dan akhirnya kita dapet tempat duduk di pojokan ged.A cuman buat curhat soal itu. wkwk.

OK that's it. Maaf kalo kebanyakan Out of Topic.
Intinya, Aku senang bisa mengenal kalian.  See You On Top guys!


"Sesamar apapun jadinya peristiwa itu nantinya dalam ingatanku, tindakan menulis yang sederhana akan membuatnya tersimpan aman dalam bentuk asli, selamanya." -Kate M. Brausen.
0
Share
3.36 PM di Malang lagi hujan deras di lengkapi dengan petir-petirnya yang menggelegar. Jujur hujan di Malang jauh lebih serem daripada di Lampung. Entah kenapa. Mungkin gue aja yang lagi bawaan rindu akan kampung halaman. tsahh. Tiba-tiba terlintas di benak gua buat ngeposting blog lagi. Postingan ini supported by teman-teman kuliah yang kerjaanya nanyain gua, "SEJAK KAPAN SIH LO BELAJAR PHOTOSHOP?"

Lo pernah denger suatu software super keren yang bernama "Photoshop"? Iya photoshop yang bisa bikin muka cantik, badan bulet jadi ideal, hidung pesek jadi mancung secara instan. Pertama kali gua kenal photoshop pas awal kelas 2 SMP. Iya, pas jaman dimana rambut poni miring sebelah ala ala justin bieber atau Andika kangen band lagi nge-tren nge-tren nya di kalangan lelaki. Sampe tukang angkot pun pake gaya rambut begituan yang bikin keliatan maksa banget di komuk nya. Jaman para perempuan kalo foto sukanya ndelosor di rumputan, foto sambil duduk kakinya di tekuk ke belakang.
Sumpah Ini bukan foto gue.

Oke skip bagian alaynya, yang jelas pas jaman itu gua gak se-alay mereka. Pas jaman itu gua cenderung introvert yang seneng menghabiskan waktunya di depan laptop. Dan pas jaman itu gua lagi-lagi cenderung introvert yang menggilai sepak bola. Dulu gua punya temen facebook yang umurnya beberapa tahun di atas gua. Nah tu orang jago banget desainnya, gambar Wayne Rooney lagi giring bola di kasih api-api gitu jadi nya keren banget. Dan gua penasaran dan pingin buat gituan. Alhasil gua kepo-in tuh orang. Dan akhirnya gue tau kalo tu orang buat begituan pake photoshop.

Photoshop pertama gua cuman pake photoshop yang versi 7.0. Itu tuh photoshop paling pasaran di laptop-laptop keluaran tahun 2008. Akhirnya gua belajar photoshop pake versi yang itu.

Awal belajar gua kesel karna hasil editan gua gak sekeren punya tuh orang. Aneh sih emang, baru megang photoshop 1,5 bulan udah mau buat manipulasi -_-
Sampe akhirnya setelah 3 bulan berjalan gua nyerah karna hasil editan gua MENJIJIKAN.
Source : FB lamaaaa
Setelah di liat-liatb ternyata dulu gua alay juga. Hmm. Cuman alaynya gua di bagian ngedit foto. Tapi dulu itu foto udah berasa keren banget. Dengan bangga nya gua pake itu foto sebagai foto profil facebook gua selama berbulan-bulan! Astagaaaa! Ini anak gak ada sisi seninya sekali, gak liat apa itu foto udah kayak karangan bunga orang meninggal. -____-

TAPIIIII... Setelah nyaris 4 bulan vakum, gua agak ngerasa kangen gitu buat ngedit foto alay kayak gitu. Akhirnya gua terjun lagi di dunia per-photoshopan. Dan setelah 2 tahun berlalu gua belajar photoshop,

 TADAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!



Anjayyy!

Itu hasil desain gua pas kelas 2 SMA. IYA, Pas jaman jilbab nemplok di jidat!
Setelah kelas 2 SMA kelar, gua vakum lagi dari dunia per-photoshopan karena mau fokus UN dan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi. Tsahhhh :) *Bohong padahal gue kerjaannya kelayapan ke sawahan buat caper ke doi. Anjayyyy.
0
Share



Hening ini Bukan tiada arti. Justru hening ini memiliki banyak arti. Hari itu adalah H-3 keberangkatan gua ke tanah rantau, Malang.

Entah kenapa suasana rumah berasa berubah gitu aja. Ya mungkin gak berubah banget, contohnya adek gua yang paling kecil yang masih sering mekik-mekik gak jelas.
Tapi jujur memang ada yang berubah. Gua bisa merasakannya, ce ilahh, merasakannn.... merasakan terus lo mblo kapan menyatakannya!
Nah kenapa jadi out of topic gini. Oke oke. balik lagi ke cerita tadi.

Malam itu, seperti biasa Emak gua nyiapin makanan buat makan sekelurga. Setelah selesai, emak mekik, "Ditaa, Usnul, makan lagi. Cepet buruan ntar om robi diorang masuk makan abis semua ntar gak kebagian sayur."
Nah, bangun lah gua dari kerajaan gua yang nyaman sebut saja "kasur". Setiba nya di meja makan, entah mengapa gua yang notabennya tukang makan paling banyak di rumah.
Bahkan sering di sebut kuli kalo lagi makan karna porsi nya yang gak kira-kira (padahal badan gue tetep mungil kok haha). Saat itu gua gak nafsu makan. Mungkin memang karna perasaan hati yang udah galau mau ninggalin rumah jauh ke kampung orang atau karna galau mikirin doi udah panya pacar hiks. Baperrrrr.. gajelas anjir.

Yang jelas gua gak nafsu makan. Semua makanan yang gua makan pasti sisa. Padahal biasanya kurang-kurangan. Pingin deh gak nafsu makan terus biar badan gua agak kecilan gitu.
Terus yang biasanya seisi meja makan gaduh karna adek gua yang paling kecil atau karna candaan gua yang onyah dan gaje, malam itu hening.
Gak keluar sedikit pun kata. Ya mungkin beberapa kali emak gua ngomong, nambah atau abisin tempe nya gitu tapi jelas banget aura meja makan malam itu GALAU.
Mungkin mereka galau karna anaknya yang paling syantikk dan imoet ini mau pergi jauh, nanti gak ada yang onyah lagi di rumah. cee elahh.

Tapi jujur pas makan malem itu gua sempet netesin dikit air mata gua. Dikit aja kok netesinnya soalnya kalo mau banyak-banyak netesin air matanya nanti gak jadi sayur capcai lagi itu sayur malah jadi asinan.
Gua sedih mau ninggalin keluarga ke Malang. Walaupun tujuan ke Malang bagus karna mau menuntut ilmu. Gua bukan meremehkan pendidkan di Kampuang gua sih Lampung, tapi gua pingin nyari pengalaman baru.

Dulu gua seneng bener bisa kulaih di Malang tapi giliran udah deket gini gua malah jadi iri sama temen-temen gua yang bisa kuliah di Lampung.
Ya namanya juga manusiaaaa, selalu kurang gak pernah cukup, kadang suka kurang bersyukur.
Tapi yang bikin gua sedih itu inget kalo jarak Lampung-Malang itu gak kayak JKT-BDG. Ini Lampung di ujung selatan Sumatera sama Malang yang ada di ujung timur Jawa loh!
Bayangin.. Mau pulang aja mikir-mikir dulu, harga tiket pesawat Lampung-Malang itu udah kayak duit sebulan buat anak kosan. Ada opsi lebih murah, naik bis? Gila kali kalo naik bis itu 2 hari 1 malem lagi, pegel duduk pantat gue jadi teposs.
Mau naik kereta ribet di Gambir nya. 

Kalo masih di UNILA kan enak kalo kangen tinggal pas sabtu pulang, minggu nya balik lagi ke Bandar Lampung. Jarak tempuh cuman 2 Jam. Penak eee.
Tapi yo aku kudu piye? Kalo kata orang, Nasi udah menjadi bubur tapi paling enggak jadikan bubur itu jadi bubur paling enak dan spesial. Ahay lebay deh lo ah!
 
Oleh karena itu, pas hari minggu 23 agustus 2015 gua OTW ke malang. Dengan mata yang ditahan-tahan buat gak nangis dan pikiran yang masih sering ngelamunin gimana kalo udah sampe sana ntar.
Gua berangkat. Udah tahan buat gak nangis pas pamitan, eh malah nenek gua yang dari hari sebelumnya sering ngecein gua,  "nanti kalo kamu kangen rumah gimana coba?" , "ribet sekolah jauh-jauh mending disini aja." , "Alangkah banyak barang bawaan makanya gak usah ngerantau di Lampung aja ada kok."
Malah nenek gua yang tangis nya pecah duluan pas barang bawaan gua di masukin ke bagasi bis. Secara sepontan air mata gua juga ngucur lah, mana tante yang sering nemenin gua juga ikut nangis, loket bis berasa jadi tempat pemberangkatan haji ke mekkah woi. Nangis semua, tapi yang gua salut yaitu emak gua yang walau matanya udah merah tapi masih gak turun juga air matanya.
Emak ku wanita tangguh yak wkwk :')

Well itu lah hari-hari terakhir sebelum gua berangkat ke Malang.Tulisan ini gua buat setelah 2 hari sampai ke Malang. 2 hari jadi anak kosan. 2 hari di tanah orang.
Butuh waktu buat gua nulis cerita ini soalnya begitu gua sampe Malang. Malemnya sehabis di telpon emak gua langsung mewek kangen rumah tapi ya kayak manalah,jalanin aja. Udah jadi keinginan gua sejak lama buat belajar ke daerah lain dan alhamdulillah sekarang dikabulkan sama Allah SWT.
Inti nya, kalo lo udah niat dari awal dan akhirnya kesampean juga buat ngerantau. Jangan takut. Lo gak bakal kehilangan keluarga, justru lo bakal dapet keluarga baru, keluarga lo jadi nambah dan keluarga lo yang ada di kampung halaman lah yang bikin diri lo terpacu buat meraih hasil terbaik di tanah rantau.

SEMANGAT ANAK RANTAU!!

0
Share
Sehabis UN Aku tetap ikut Bimbel buat persiapan sbmtpn. Pokoknya segala hal nya sudah aku siapkan untuk segala kemungkinan yang bakal terjadi. Jujur aku gak terlalu berharap sama SNMPTN soalnya ngerasa SMA-ku dulu ampas bingits wkwk.

Tapi saat 9 Mei 2015 aku membuka hasil snmptn di sekolah bersama teman2 Paskibra ku dan Hasilnya Alhamdulillah Aku Lolos di Pilihan Pertama Ilmu Pemerintahan, Universitas Brawijaya dan Sahabatku Elok Berhasil Lolos BIDIK MISI Teknik Sipil Unila.
Dan saat 3 Juni 2015 kemarin aku lihat pengumuman PBUSMAK UGM aku juga lolos di jurusan Bahasa Perancis. Terima Kasih Ya Allah.

Yang jelas semua yang kita dapatkan itu pasti sesuai sama usaha (+doa) kita kok. Dan Insyaallah yang aku dapatkan sesuai dengan jerih payah ku selama di SMA. From probably the most bullied girl in high school, menjadi seperti saat ini.

Dari yang nilai MTK nya Ancur-Ancuran nyampe bisa dapet nilai MTK yang cukup memuaskan di kelas 3 ini. Dari Anak yang bisa di bilang diremehkan oleh orang banyak, jadi bisa membuktikan kepada DIRI SENDIRI kalau omongan mereka itu salah. Kalau kata seorang motivator sih "Jangan buktikan pada MEREKA tapi buktikan pada DIRI SEDIRI"
Dan Yang jelas seperti kata Faldo Maldini (Mantan Presiden BEM UI) "SELAMA HIDUP, KITA BELAJAR", gak ada yang gak bisa selama kita mau berusaha. Restu Orang Tua dan Dukungan orang-orang sekitar itu penting.

Ada quotes dr Faldo Maldini yang akhir-akhir ini terngiang, "Jika dalam pergulatan ini kita memiliki kekuatan diri yang sangat oke dan juga memiliki teman seperjuangan bergulat yang tidak kalah OKE, kita tidak akan pernah ragu untuk mengucapkan kalimat, JADI KEKERENAN APA YANG AKAN KITA BUAT HARI INI?".


0
Share

Ketika aku SMP, I'm dying to graduate and start SHS. Dan ketika aku kelas 10 SMA, aku ingin segera naik ke kelas 11 dan masuk jurusan yang aku inginkan. Saat masuk kelas 11 aku mulai mencoba menikmati tanpa harus terburu-buru ingin selesai. Dan saat kelas 12 SMA, Aku gak ingin masa SMA ini berhenti karena benar kata mereka "SMA itu masa yang indah".

Well, tapi mau bagaimana pun juga waktu terus berlanjut. Dan di saat aku diberi pilihan buat mendaftar kuliah, aku ingin kuliah di luar daerah. Aku mendaftarlah di salah satu Universitas terbaik di Indonesia yang letaknya di timur pulau jawa.
Dan Alhamdulillah diterima di universitas tersebut.

I was so excited about that. I can't wait to be there, to start living alone and so far away from home. Until, I watched this movie "Boyhood", film ini keluaran tahun 2014. Sejak dulu aku pingin banget nonton film ini.
Aku terkesima sama proses pembuatan film ini yang total menggunakan pemeran yang sama selama proses pembuatan film ini. Film ini di bintangi Patricia Arquette. Film ini proses pembuatannya 12 tahun. Mereka memakai pemeran yang sama dari kecil sampai dewasa.

Film ini berkisah tentang cerita kehidupan seorang anak kecil bernama Mason Junior. Film ini mengkisahkan Mason sejak dia berumur 7 tahun sampai dia berumur 18 tahun. Mason disini diceritakan sebagai anak yang orang tuanya sudah bercerai tapi hubungan kedua orang tuanya masih baik.

Film ini selesai saat si Mason berumur 18 tahun sesuai dengan umur ku sekarang dan si Mason juga baru lulus SMA.
Di film ini ada salah satu scene yang bikin rada melow, yaitu di bagian saat Mason sedang menyiapkan barang yang mau di bawa dia ke asrama di kuliahnya.
Di scene itu Mason mengeluarkan bingkai foto berisi foto pertama yang Mason ambil saat pertama kali di kasih kamera. Ceritanya si Mason hendak kuliah di jurusan Fotografi.

Mason    : "Apa ibu yang memasukan barang ini? Aku tak mau membawanya" 
Ibu    : (sambil tersenyum) "Ayolah, itu adalah hasil foto pertama yang kau dapatkan."
Mason    : "ya, tapi ada banyak alasan untuk meninggalkan ini, kan?"
(Lalu sang Ibu mulai menangis)
Mason    : "Ada apa?"
Ibu    : (sambil menangis) "Ini adalah hari terburuk dalam hidupku."
Mason    : "Apa maksud ibu?"
Ibu    : "Aku tahu, hari ini pasti akan datang. Hanya saja Aku tak tahu kalo kamu akan sebahagia ini untuk pindah."
Mason    : "Bukan berarti aku senang begitu saja. Memang apa yang Ibu harapkan?"
Ibu    : "Kau tahu aku baru sadar kalau hidupku hanya berjalan begitu saja. Menikah, punya anak-anak, lalu bercerai. Mengajari mu cara menaiki Sepeda. Mendapatkan gelar Master. Bercerai lagi. Mendapat pekerjaan yang aku inginkan. Lalu, mengirim Kakak mu kuliah. Sekarang mengirim kamu kuliah juga. Kau tahu, berikutnya apa? Pemakamanku! Pergi Sana! Tinggalkan foto itu!"
Mason    : "Ibu kenapa? Ibu langsung memikirkan 40 tahun yang akan datang atau bagaimana?"
Ibu    : "Aku hanya berpikir masih banyak hal lagi yang seharusnya dapat kita lalui."

Disini aku mikir keras.
Ya, yang awalnya aku senang dan excited bisa kuliah disana, Sekarang aku jadi sedih mau meninggalkan keluarga disini. Tapi mau gimana. Ini keputusan ku sendiri.

Dari film ini, Aku merasa bagaimana waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa dulu masih di antar ayah ke TK naik motor pakai jas hujan. Dulu saat ulang tahun ke-8 betis kanan kena knalpot sampe mau tidur aja harus di gantung dulu kaki nya wkwk, Sekarang bahkan bekas lukanya aja gak keliatan lagi. Seinget ku baru kemarin aku masuk SMA pake seragam putih abu-abu baru, almamater SMA baru, eh sekarang udah lulus aja. Waktu berjalan begitu cepat dan aku merasa kurang menikmati every moment-nya.

Hidup Cuman Sekali, So, Nikmatin Every Moment-nya! Soalnya bisa jadi itu moment cuman terjadi sekali dalam hidup mu. Jangan buru-buru mau mengakhiri setiap moment, takutnya giliran momentnya udah lewat baru deh lo kangen masa nya.
0
Share
Newer Posts Home
Copyright © 2015 Solo, Solitude

Created By ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates